Pada Akhirnya, Kita “Ada”

Teks oleh Doni Y.H. Singadikramafoto oleh Yudhistira P. Anugrah 20 Oktober, 2017.

 

Manusia dengan tridaya, di mana ada cipta, rasa dan karsa. Tenang, ini hanyalah rangkuman perjalanan personal semata, bukan studi tulisan mengenai eksistensialisme ataupun bimbingan spiritualis.

 

Sungguh romantis rasanya bisa menerbitkan buah pikiran sendiri, nada-nada indah nan manis akan mengguncang hati kita tatkala melihat antusias orang lain yang berhasil tertarik untuk mengapresiasi buah karya kita. Bentuk apresiasinya pun macam-macam, bisa dengan bentuk nominal rupiah, barter/trade dengan karya orang lain, hingga dibantu untuk mempublikasikannya secara cuma-cuma. Sebelum jauh melebar, mari kita sepakati terlebih dahulu bahwa “buah karya” yang saya maksud dari gambaran diatas adalah self-publishing. Bentuk penerbitan ini tentu pada umumnya tidak mengelak adanya keuntungan berlebih dari hasil distribusinya, kecuali kamu khusus. Dalam self-publishing pula kamu akan susah naik haji dengan keuntungan yang kamu dapatkan dari transaksi ala self-publishing. Atau mungkin saya tidak pandai berhitung?

 

Kemudian, demi mempersingkat waktu teman-teman, saya akan mulai mengkerucutkan self-publishing ini menjadi hanya zine saja. Atas nama asas mempersingkat waktu pula, bila teman-teman belum begitu mengenal istilah zine, silahkan buka laman baru dengan kata kunci “zine” pada mesin pencari favorit masing-masing 🙂

IMG_3870

Zine = subkultur?

Sesuai dengan rangkuman-rangkuman yang telah ada, subkultur zine awalnya dikenal di Amerika ketika mesin pencetak masal dengan teknologi xerografi pertama kali pada akhir dekade 30-an. Terlepas dari itu, zine mulai panas lagi beberapa tahun belakangan ini. Sebut saja kehadiran Bandung Zine Fest dan betapa banyaknya pelaku visual yang mulai mengaplikasikan karyanya dalam bentuk zine. Dalam skala domestik, saya (Yogyakarta)-pun, mulai bermunculan event yang “berbau” zine – tidak banyak, tapi cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

 

Merespon diskusi yang berlangsung Juli silam pada perhelatan SUB ZINE FEST 2017 di Surabaya tentang zine, subkultur dan keberlangsungannya, tentu menjadi benar adanya jikalau kita tengok dari sejarah mengenai zine dan pergerakannya di ranah subkultur, atau paling tidak hal itu saya dan teman-teman Surabaya amini pada diskusi tersebut. Perlawanan menjadi salah satu kata kunci untuk apa zine muncul di Yogyakarta. Perlawanan muncul menyikapi arus utama, dimana benih-benih alternatif muncul, salah satunya lewat zine. Sejauh yang saya pahami, beberapa orang (yang saya kenal) masih menikmati zine sebagai media perlawanan, pun penyebarannya yang dikenal dengan harga miring – bahkan bisa gratis. Di zaman sekarang? Ingat, kamu bisa saja mati kelaparan jika untuk memakan saja kamu harus berburu ataupun bercocok tanam, zaman telah berubah. Kita tidak bisa membiarkan begitu saja wawasan yang kita dapat untuk mengabaikan proses semacam transaksi dagang misalnya. Zine sekarang punya dominasi visual, tidak dapat dipungkiri, seni (visual) semakin familiar dengan masyarakat. Benar adanya jika terdapat pergeseran (di mana saya lebih nyaman menyebutnya sebagai perkembangan) makna dalam zine. Abraham (Anti Warna Zine) selaku salah satu panita dalam pegelaran SUB ZINE FEST-pun menyatakan bahwa zine yang mulanya merupakan sahabat erat subkultur, kini mulai didominasi kesan budaya pop.

 

Lalu apa lagi? Oh iya, jujur saya sudah cukup lelah dengan perdebatan mengenai apa itu zine pada zaman sekarang. Perkara yang ini adalah zine, sedang yang itu adalah bukan dan semacamnya. Tentu banyak teori-teori mengenai itu, tapi jika teman-teman mengamini bahwa istilah zine sangat dengan kemerdekaan, maka menjadi sebuah refleksi bagi saya: bisakah saya merumuskan kenyamanan soal zine itu seperti apa, menurut saya sendiri? Jika saya nyaman merumuskan matang-matang dengan tesis dan segala teori rumit lainnya, saya bisa apa? Haruskah saya se-“alternatif” teman-teman zine lainnya? Jika iya, di mana letak kemerdekaan saya? Saya yakin hal ini berlaku juga sebaliknya. Yang tidak satu kiblat perihal zine dan kemerdekaannya tentu sangat di-sunnah-kan untuk mengabaikan paragraf ini.

 

Jujur, selain lelah dengan perdebatannya, saya sebenarnya dengan amat rendah diri mengaku tidak sanggup menjelaskan apa itu zine, secara sederhana tentunya. Tentu definisi konkret banyak tertera di berbagai kanal penjelajahan informasi. Kurang lebih menjelaskan hal yang senada, selebihnya, hanya copy dan paste. Keresahan perihal definisi ini untungnya meredup berkat obrolan malam yang tidak larut-larut amat dengan Dito Yuwono dan Rahmawati pada saat proses pengerjaan proyek zine ZAMAN: A Short Research About Zine In Yogyakarta. Kesimpulan yang menarik muncul ketika Dito berkata: “zine ya produk media cetak yang tidak mengedepankan kerangka bisnis, sesederhana itu, dia adalah persebaran ilmu pengetahuan. Apakah itu akan di-fotokopi atau cetak warna ya terserah. Itu tidak berada di wilayah gagasan, tidak terlalu penting untuk dibahas”. Melegakan bukan?

 

Lantas, untuk apa kamu membuat zine? Sebagai sebuah bentuk alternatif? Alternatif dari apa? Menurut saya, pertanyaan itulah yang perlu ditekankan. Kembali pada sesi diksusi SUB ZINE FEST. Sedikit informasi, diskusi tersebut di-isi oleh tim zine ZAMAN:  a short research about zine in Yogyakarta dan juga oleh Benny Wicaksono yang dimoderatori oleh Abraham. Pada sesi tanya jawab, salah seorang audiens bernama Yudo melempar sebuah pertanyaan: “Baiklah, jika zine merupakan buah dari subkultur, lantas apa yang menjadi “sub” kita hari ini?” Tentu Benny Wicaksono selaku dosen dan juga kurator dengan sigap menanggapinya dengan jawaban yang sangat diplomatis (menurut saya), jawaban yang mengesankan tapi tidak cukup untuk menjawab rasa keingintahuan saya, untungnya jawaban tersebut ditutup dengan kalimat “di sini (SUB ZINE FEST), kita sedang melakukan selebrasi atas kreatifitas kita, yang tentunya perlu kita apresiasi, kemudian penonton diajak bertepuk tangan bersama. Sedikit melegakan kali ini. Di sini saya sadar ada perbedaan cukup mencolok, terutama pada bentuk keberpihakan mas Yudo atas teman-teman street”-nya. Jika dalam menulis zine ini, Yudo dan teman-teman street”-nya (yang mempunyai keterbatasan akademis) harus melulu dihantui oleh pernyatan “… bisa dibuktikan secara ilmiah dan bla bla bla”, bagaimana mereka yang (kebanyakan) tidak mengenyam jalur akademis? Tidak-kah upaya pernyataan “ada” dari mereka saja sudah cukup?

 

4 macam diskusi merespon hangatnya (lagi) zine belakangan ini telah saya ikuti semenjak Indisczine Partij (2016) hingga terakhir pada 2017 di SUB ZINE FEST Surabaya. Antusias tentu meroket, namun dari beberapa diskusi, tidak satupun punya kesimpulan ampuh tentang pergerakan zine sekarang ini. Zine masih terus berkembang seiring dengan zaman, konklusi terus dibangun seiring berjalannya waktu, dan kita merupakan wakil dari apa-apa yang kita jalankan. Entah 5-10 tahun ke depan, pergerakan-pergerakan yang kita lakukan tentu akan memperkaya konklusi menyoal salah satu media self-publishing bernama zine ini, tentu berlaku juga pada bidang ataupun konsentrasi lainnya. Dalam perjalanan ini, paling tidak kita perlu kita sejenak menyadari masing-masing bergerak, saling mengisi, saling menjatuhkan namun tanpa sadar terkadang itu justru menjadi hal-hal yang saling membangun, entahlah. Yang jelas saya sepenuhnya sadar, masing-masing “ada” untuk tujuannya masing-masing.